Cryptocurrency yang biasa disingkat crypto adalah sebutan untuk mata uang digital yang dapat digunakan untuk transaksi antar pengguna tanpa perlu melewati pihak ketiga. Jika pada umumnya yang menjadi pihak ketiga dalam setiap transaksi adalah bank, maka lain halnya dalam cryptocurrency, di mana tidak ada yang berperan sebagai perantaranya. 

Bisnis crypto adalah kegiatan memperjualbelikan aset mata uang digital yang tersedia di pasar cryptocurrency dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Sebab, saat ini cryptocurrency dianggap sebagai aset untuk trading karena nilai fluktuasinya yang sangat tinggi.

Risiko Bisnis Crypto

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai cara menjalankan bisnis crypto, berikut ini beberapa risiko yang harus kamu ketahui agar tidak mengalami kerugian yang sangat besar saat menjalankannya.

1. Risiko penurunan nilai mata uang yang tidak terbatas

Banyak orang menggemari bisnis crypto karena nilai mata uangnya bisa mengalami kenaikan hingga ratusan persen tanpa ada batasnya. Meski begitu, ingatlah bahwa risiko penurunan nilai mata uang yang cukup drastis juga akan selalu mengintai. 

Sehingga memang mungkin saja kamu bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar, namun di lain waktu justru bisa berbalik mengalami kerugian yang sangat besar akibat melakukan transaksi aset crypto yang fluktuatif.

Lain halnya jika kamu melakukan investasi di pasar modal seperti reksadana atau saham, di mana Bursa Efek Indonesia akan membatasi penurunan saham sekitar tujuh persen dalam sehari. Jika penurunan terjadi selama beberapa hari, pihak otoritas Bursa Efek Indonesia akan menerapkan pemberhentian perdagangan untuk sementara waktu, sehingga kerugian investor bisa dibatasi.

2. Tidak ada dasar fundamental yang bisa dianalisis

Berbeda dengan mata uang rupiah, dolar, dan lainnya, mata uang crypto tidak memiliki dasar fundamental seperti suku bunga dan data makro lainnya. Sehingga hal ini akan mempersulit kamu untuk memprediksi dan menganalisis nilai wajar atau valuasi mata uang crypto saat melakukan trading.

3. Tidak dilindungi oleh badan otoritas 

Jika biasanya bank yang menjadi perantara saat kita melakukan investasi mata uang rupiah atau dolar, maka lain halnya dengan mata uang crypto yang transaksinya diatur secara otomatis oleh sistem blockchain. Oleh karena itu transaksinya tidak dilindungi oleh badan otoritas yang biasanya membuat peraturan dengan jelas atau pihak yang bisa membatasi perdagangan. Hal ini berbeda dengan investasi reksadana atau saham yang di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Cara kerja Crypto

cara berinvestasi dengan mata uang crypto adalah dengan melakukan aktivitas jual beli aset melalui exchange, yaitu sebuah platform yang mempertemukan pembeli dan penjual (anggota exchange) sampai terjadi transfer aset crypto berupa Bitcoin. Berikut ini cara kerja bisnis crypto yang bisa kamu simak :

  1. Transaksi yang terjadi saat transfer aset crypto dilakukan oleh investornya langsung. Berbeda dengan transaksi di bursa saham yang dilakukan oleh bantuan broker sebagai perantaranya.
  2. Sama halnya saat kita menyimpan uang di dalam dompet, penyimpanan Bitcoin sebagai aset crypto dilakukan di ‘wallet’, hanya saja dilakukan secara digital yang disediakan oleh exchange atau milik investor sendiri. 

Memilih ‘pair’ koin yang akan ditransaksikan, biasanya Bitcoin atau Rupiah. Mengingat bahwa transaksi Bitcoin dilakukan langsung oleh investor sebagai anggota exchange, maka harga jual belinya bisa berbeda antara satu dan lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya selalu amati dengan baik harga yang paling bersaing sebelum melakukan transaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *